Menteri Retno: “Untuk Bangsa Palestina”

Oleh Retno LP Marsudi, Menteri Luar Negeri RI

Hari ini, 14 Mei 2018, bangsa Palestina menghadapi tantangan berat dalam perjuangan mencapai kemerdekaannya, yaitu pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) dari Tel Aviv ke Yerusalem. Tepat 70 tahun setelah pendudukan tanah Palestina dan terusirnya Palestina dari tanah airnya pada 1948. Nakba Day, Hari Bencana, bangsa Palestina menyebutnya demikian.

Tindakan sepihak yang bertentangan dengan hukum internasional ini melawan aspirasi dan hati nurani mayoritas masyarakat internasional. Resolusi Sidang Darurat Majelis Umum PBB mengenai “status Yerusalem” yang disetujui oleh 128 negara, termasuk Indonesia, dan ditolak hanya oleh sembilan negara adalah refleksi pandangan mayoritas masyarakat internasional yang tidak setuju tindakan AS. Keputusan ini juga menyakiti perasaan bukan hanya bangsa Palestina dan dunia Islam, tetapi juga komunitas umat beragama yang memiliki ikatan spiritual dengan Yerusalem.

Posisi Indonesia sangat tegas dan jelas. Indonesia mengecam keras pemindahan Kedutaan Besar AS tersebut. Tindakan ini bukan saja akan mengganggu proses perdamaian dan bahkan mengancam perdamaian itu sendiri. Untuk itu, sejak awal, Indonesia menolak keputusan tersebut dan meminta semua negara yang taat hukum internasional agar tidak mengikuti jejak AS. Tentu, Indonesia menghormati keputusan negara berdaulat jika keputusan itu tidak bertentangan dengan norma dan hukum internasional.

Sejak rencana realisasi pemindahan Kedutaan Besar AS didengar Indonesia, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, saya langsung terbang ke Washington DC untuk mempertanyakan rencana tersebut. Sejak itu, saya terus melakukan komunikasi dengan mitra saya Menlu RRT, Rusia, Uni Eropa, Australia, dan negara Timur Tengah, khususnya Palestina dan Yordania, untuk menyikapi rencana tersebut. Insya Allah, saya akan hadir dalam pertemuan darurat OKI di Ramallah dua pekan ke depan membahas perkembangan ini.

Bagi Indonesia, Palestina ada di jantung politik luar negeri. Setiap helaan napas diplomasi Indonesia terdapat isu Palestina. Dukungan Indonesia terhadap Palestina telah ada sejak awal berdirinya bangsa Indonesia. Indonesia secara tegas menolak tawaran Israel membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia pascapengakuan kedaulatan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Bahkan, Wakil Presiden Mohammad Hatta sendiri yang menolak tawaran Menlu Israel Moshe Sharett untuk mengirimkan delegasi persahabatan ke Indonesia. Sebaliknya, Indonesia justru menggalang dukungan bagi kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, termasuk Palestina, melalui Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Saat ini, seluruh negara peserta Konferensi Asia-Afrika telah merdeka, kecuali Palestina.

Jauh sebelum Perjanjian Oslo 1993, Indonesia telah secara tegas mengakui status Palestina sebagai negara merdeka, melalui pendandatanganan Komunike Bersama Pembukaan Hubungan Diplomatik RI-Palestina antara Menlu RI Ali Alatas dan Menlu Palestina Farouq Kaddoumi pada 19 Oktober 1989, di Jakarta. Selain tataran bilateral, Indonesia juga secara gigih terus memperjuangkan status Palestina melalui forum multilateral. Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia telah bertindak sebagai tuan rumah KTT Luar Biasa V OKI mengenai Palestina dan al-Quds al-Sharif di Jakarta, pada 6-7 Maret 2016. bertema “United for a Just Solution” tersbeut bertujuan semata agar isu Palestina dan al-Quds al-Sharif tetap menjadi perhatian masyarakat internasional.

Pascapengumuman sepihak AS terkait status Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Presiden RI menghadiri KTT Luar Biasa OKI di Istanbul, Turki, pada 13 Desember 2017. Presiden sampaikan usulan konkret untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina, termasuk peningkatan perekonomian melalui pembebasan pajak bagi beberapa produk Palestina ke Indonesia.

Bagi Indonesia, perjuangan bangsa Palestina akan semakin mulus jika seluruh elemen di Palestina bersatu dan bahu-membahu untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Untuk itu, Indonesia berpandangan bahwa persatuan seluruh elemen bangsa Palestina adalah sebuah keniscayaan. –

Indonesia juga memahami bahwa kapasitas untuk mengelola sebuah negara tidak kecil. Membangun sebuah bangsa bukan pekerjaan satu malam. Masa depan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sangat bergantung pada kualitas dan kecakapan manusia yang menjadi inti dari citizenshipnya. Oleh karena itu, pembangunan kapasitas sumber daya manusia Palestina juga menjadi prioritas bagi Indonesia.

Untuk itu, Indonesia secara konsisten memberikan berbagai program pelatihan kapasitas bagi aparatur Palestina dalam berbagai bidang, termasuk UKM, keuangan dan perpajakan, kepolisian (cyberforensics), microfinance, pertanian, pelatihan diplomatik, kearsipan, kesehatan, energi, pemberdayaan perempuan, demokratisasi dan good governance, perindustrian, pariwisata, konservasi serta restorasi monumen dan situs, konstruksi, sosial, dan tekstil. Indonesia telah memberikan pelatihan hampir 2.000 orang Palestina yang mencapai io juta dolar AS.

Rakyat Indonesia pun tidak tinggal diam. Bersama pemerintah, rakyat Indonesia bahumembahu memberikan bantuan kemanusiaan, kesehatan, dan logistik bagi saudarasaudaranya di Palestina. Rumah Sakit Indonesia di Gaza, misalnya, dengan luas sekitar io ribu meter persegi menjadi salah satu rumah sakit terbesar bagi warga Gaza sebagai bentuk solidaritas dan kesetiakawanan rakyat Indonesia. Relawan Indonesia juga langsung terjun ke Palestina untuk membantu saudaranya secara langsung, meskipun terkadang kondisi keamanan di Gaza tidak kondusif.

Kita semua bangsa Indonesia, pemerintah dan rakyatnya, memiliki keyakinan besar, dengan rahmat Allah SWT kemerdekaan bangsa Palestina cepat atau lambat akan terwujud. Bagi Indonesia, Palestina adalah satu-satunya bentuk penjajahan yang masih ada di dunia modern ini. Sesuai dengan amanat konstitusi, Indonesia akan terus berdiri bersama bangsa Palestina hingga Palestina merdeka di tanah airnya.

Tak bosan-bosannya saya mengutip kuatnya kalimat presiden pertama Republik Indonesia Ir Sukarno pada 1962 bahwa selama kemerdekaan belum dicapai oleh bangsa Palestina, selama itu pula Indonesia akan berdiri di sisi Palestina. Merdeka!

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s