Alumni 212 Beberkan Pertemuan di Istana

Pihak Istana sejak awal mengisyaratkan pertemuan dilakukan tertutup.

Para anggota kelompok Persaudaraan Alumni 212 — kelompok penggerak demonstrasi menuntut calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dijerat pidana pada 2 Desember 2016 —membeberkan isi pertemuan tertutup mereka dengan Presiden Joko Widodo pada akhir pekan lalu di Istana Bogor.

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa, Yusuf Muhammad Martak, mengatakan kelompoknya diundang Presiden untuk membicarakan sejumlah hal. Antara lain kriminalisasi dan penyerangan terhadap ulama, serta memberi masukan agar pemilihan kepala daerah 2018 dan Pemilihan Umum 2019 damai. “Kami juga salat zuhur dan makan siang bersama,” kata Yusuf, kemarin.

Selama sekitar tiga jam Presiden dan sebelas pengurus Persaudaraan Alumni 212 berbicara santai. Sebelas orang yang menemui Jokowi adalah Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia Usamah Hisyam, juru bicara Front Pembela Islam Slamet Maarif, Ketua Umum FPI Ahmad Sobri Lubis, Roud Bahar, Muhammad Al-Khathtath, Misbahil Anam, Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Muhammad Husni Thamrin, Nur Sukma, Aru Syeif Asyadullah, danYusuf Martak.

Menurut Yusuf, pihak Istana sejak awal mengisyaratkan pertemuan dilakukan tertutup. Buktinya, telepon seluler dan kamera mereka disita sementara. Namun, dua hari setelah pertemuan itu, foto-foto mereka dengan Jokowi saat berada di masjid Istana Bogor bocor ke publik. “Tentu bukan kami yang menyebarkan,” ujarYusuf.

Usamah Hisyam mengklaim dirinya sebagai inisiator pertemuan. Kelompok ulama, kata dia, ingin bertemu dengan Jokowi sejak beberapa bulan lalu untuk membahas kriminalisasi terhadap rekan mereka dan kepulangan Rizieq Syihab — pemimpin FPI yang tengah menjadi buron polisi dalam kasus pornografi — dari Arab Saudi. Usamah menyebutkan, tiga hari sebelum pertemuan, ia ‘diundang’ Jokowi guna membicarakan agenda pertemuan. “Selain membahas kriminalisasi, juga silaturahmi saja,” kata dia.

Setelah pertemuan bocor ke publik, barulah Presiden mau bercerita kepada wartawan. Jokowi mengungkapkan, pertemuannya dengan ulama bukanlah hal – baru. “Saya hampir setiap hari, setiap Minggu ke pondok pesantren, bertemu ulama, dan mengundang ulama ke Istana,” katanya, Rabu lalu. Jokowi berujar, menjalin silaturahmi dengan ulama adalah hal penting untuk memecahkan masalah negara.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangv, Hasto  Kristiyanto, menolak anggapan bahwa silaturahmi Jokowi dengan kelompok “212”merupakan upaya mencari dukungan menjelang pemilihan presiden 2019. Menurut dia, Presiden sudah seharusnya menerima tamu dari kalangan mana pun.


Koran Tempo 27 April 2018, Page 8 Nasional | Oleh Indri Maulidar

 

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s