Ke Istana Diundang Presiden

Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Permusi) yang juga pengurus Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama H Usamah Hisyam mengungkapkan, pertemuan di Istana Bogor pada Minggu (22/4) lalu karena memenuhi undangan -dari Presiden Joko Widodo.

Ia pun menceritakan kronologis mengapa pertemuan itu bisa terjadi. Menurut Usamah, Tim 11 ulama Persaudaraan Alumni 212 terbentuk saat akan menyambut kedatangan Habib Rizieq Shihab ke tanah air pada 21 Februari 2018.

Untuk kepulangan Habib Rizieq itu, Tim 11 melakukan rapat pada 19 Februari 2019, yakni bagaimana kepulangan Habib bisa lancar dan aman.

“Maka saat itu kita bersepakat, perlu menjelaskan secara utuh kepada presiden atas kriminalisasi ulama. Kami juga sudah mendapat persetujuan Habib Rizieq untuk menemui presiden,” ucap Usamah saat jumpa pers bersama dengan anggota Tim 11 PA 212 lainnya di Jakarta, Rabu (25/4).

Dari rapat itu, kata Usamah, dirinyalah yang diamanatkan untuk menghubungi presiden. “Namun pertemuan itu terus gagal hingga gagal pula kedatangan Habib Rizieq,” ujar Usamah.

Lalu, pada 14 April, Usamah mengaku mendapat telepon dari pihak Istana untuk dapat menemui Presiden Jokowi guns melanjutkan rencana pertemuan yang tertunda dengan para ulama alumni 212.

“Akhirnya diputuskan pada 19 April saya menemui Presiden Jokowi secara empat mata. Dan saat itu saya sampaikan bahwa Tim 11 ingin beraudiensi dengan presiden dengan agenda tunggal, yakni meminta Presiden menghentikan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis 212,” tukasnya.

Aihasil, Presiden pun menyatakan siap mengundang para ulama yang tergabung dalam tim 11 pada hari Minggu (22/4). “Hingga akhirnya pertemuan itu pun terjadi. Dengan harapan agar pertemuan ini dapat menyelesaikan segala miskomunimasi antara presiden Jokowi dan ulama alumni 212, sehingga hubungan bisa lebih mencair,” ujar Usamah.

Ia menjelaskan, anggota Tim 11 menyampaikan kepada presiden bahwa apapun yang dilakukan oleh aparat dapat berdampak kepada presiden. “Untuk itu dibutuhkan political will dari Presiden Jokowi atas segala kasus kriminalisasi ulama dan aktivis 212,” tukasnya menambahkan.

Pernyataan terkait pertemuan itu juga diucapkan oleh anggota tim 11 Yusuf Muhammad Martak. Yusuf yang juga salah satu ketua di GNPF Ulama menerangkan, enam ulama yang terdiri atas dirinya, Al Khaththath, KH Slamet Maarif, H Usamah Hisyam, KH Sobri Lubis, dan KH Abah Roud Bahar, tiba di Istana Bogor pukul 12.00 WIB. Mereka langsung menuju masjid yang berada di komplek Istana untuk salat Zuhur berjamaah bersama Presiden Jokowi.

“Usai Salat, kami pun langsungmenuju Istana dan berdiskusi di ruang kerja presiden selama satu jam. Lalu dilanjutkan makan siang, juga sambil berdikusi. Setelah makan, tepat puku114.30 kita langsung berpamitan pulang,” terang Yusuf.

Dalam diskusi itu, Yusuf mengungkapkan, yang pertama kali membuka pembicaraan adalah Presiden Jokowi. Ia mengeluhkan adanya tuduhan bahwa dirinya menciptakan utang yang banyak hingga berpihak pada TKA Cina.

“Lalu, Pak Jokowi pun mengklarifikasi segala tudingan negatif,” kata Yusuf.

Usai mendengar klarifikasi Jokowi, lanjut Yusuf, maka giliran para ulama yang menyampaikan maksud dan tujuannya dalam pertemuan itu. “Nah, dalam diskusi itu kami pun menuturkan isu utama yakni meminta agar Presiden Jokowi membuat kebijakan yang bisa menghentikan kriminalisasi terhadap para ulama dan aktivis alumni 212. Dan Presiden pun mengaku akan menampung semua masukan dari pertemuan tersebut,” tutupnya.


Indopos 26 April 2018, P1;7 

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s