Signifikansi Politik Calon Wakil Presiden

Semakin senjangnya jarak keterpilihan antara Presiden Joko Widodo dan sosok calon presiden lainnya membuat perekrutan calon wakil presiden kian signifikan. Persaingan menjadi lebih kompetitif jika Jokowi atau penantangnya disandingkan dengan cawapres yang berpotensi mengalihkan pilihan pendukung lawan.

Keterpilihan Jokowi yang makin berjarak dengan pesaingnya tecermin dari hasil survei opini publik periodik Kompas. Sepanjang 3,5 tahun pencermatan, apresiasi publik terhadap kinerja pemerintahan Jokowi cenderung semakin positif. Paralel dengan itu, hasil survei terbaru, 55,9 persen responden mengaku akan memilih Jokowi jika pemilu dilakukan saat ini.

Membandingkan dengan capaian Jokowi bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla saat keduanya mendapat 53,15 persen pemilih pada Pemilu 2014, posisinya kini telah surplus dukungan. Dengan penguasaan lebih dari separuh bagian dari total responden, posisi politik Jokowi sudah di atas ambang kemenangan elektoral.

Namun, kalkulasi saat ini tidak selalu berlaku mutlak dalam dimensi waktu yang berbeda. Setahun jelang pemilu, berbagai perubahan politik masih mungkin terjadi. Begitu pula dukungan publik yang tak sepenuhnya terikat dalam loyalitas mutlak.

Dalam hasil survei ini, diperkirakan sepertiga dari total pendukung Jokowi saat ini terkategorikan kurang loyal, yang memungkinkan berubah sejalan dengan dinamika perpolitikan. Artinya, saat ini dengan hanya mengandalkan dua pertiga barisan pendukung paling loyal, tampaknya masih belum cukup menjaminkan langkah kemenangan Jokowi pada 2019.

Dalam konteks semacam inilah signifikansi politik pemilihan cawapres makin krusial. Sebagai petahana dengan bekal tingginya derajat penguasaan elektoral, sisi pengamanan elektoral menjadi penting. Dengan kelebihan semacam itu, cawapres ditempatkan sebagai sosok penjaga loyalitas, mampu mengeliminasikan potensi pengurangan elektabilitas yang muncul dari isu-isu negatif terhadap Jokowi. Sebagai penjaga loyalitas, jelas mensyaratkan sosok yang justru tidak menyimpan resistensi publik.

Namun, perekrutan cawapres jadi berbeda jika Jokowi membutuhkan calon yang tak hanya diperuntukkan sebatas kalkulasi kemenangan pemilu. Kepentingan bagi keberlanjutan visi kepresidenannya, misalnya, membutuhkan sosok wapres yang diproyeksikan kelak sebagai calon penggantinya. Apabila kepentingan itu menjadi prioritas, bisa jadi perekrutan cawapres menjadi lebih kompleks ketimbang syarat memenangi pemilu.

Hasil survei Litbang Kompas, paling tidak ada 34 sosok yang dianggap publik layak disandingkan dengan Jokowi. Dari jumlah itu, terbangun beberapa alternatif pilihan cawapres.

Pertama, pilihan responden yang menganggap ideal jika Jokowi kembali bersama Jusuf Kalla. Meski ada perdebatan terkait dapat tidaknya Kalla kembali sebagai wapres, pasangan ini masih dirujuk bagian terbesar responden. Dasar argumentasinya, di balik pilihan status quo tersingkap kecenderungan sebagian besar responden yang merasa puas dengan kinerja Jokowi-Kalla selama ini.

Kedua, pilihan responden tertuju kepada sosok Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang selama ini jadi pesaing terdekat Jokowi. Kombinasi Jokowi-Prabowo merupakan pilihan unik, suatu peleburan dikotomi.

Pertimbangannya tak hanya sekadar tingginya peluang kemenangan. Kombinasi Jokowi-Prabowo juga dipandang berpotensi mengeliminasikan persaingan kedua sosok itu. Namun, kombinasi ini masih ditanggapi pro dan kontra. Hasil survei menunjukkan, mereka yang mendukung dan resisten sebanding pada kedua barisan pendukung.

Ketiga, pilihan cawapres untuk Jokowi dengan pertimbangan latar belakang yang berbeda- beda. Sosok berlatar belakang menteri kabinet, salah satu alternatif yang dirujuk publik. Sosok Sri Mulyani Indrawati, Susi Pudjiastuti, ataupun kalangan pemerintahan berlatar belakang militer, seperti Wiranto, Moeldoko, atau Kapolri Jendera (Pol) Tito Karnavian juga menjadi rujukan. Terdapat pula alternatif memasangkan Jokowi dengan sosok yang pernah berkecimpung dalam dunia militer, tetapi kini di luar pemerintahan, seperti Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono.

Di sisi lain, didasarkan pada kepentingan pengamanan politik, terdapat pula tokoh yang layak dipasangkan dengan Jokowi. Di antaranya mereka yang berlatar belakang petinggi partai politik, seperti Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Muhammad Romahurmuziy, Zulkifli Hasan, ataupun politisi seperti Puan Maharani. Selain politisi, terdapat pula barisan kepala daerah, seperti Anies Baswedan, TGH Muhammad Zainul Majdi, Tri Rismaharini, dan Ridwan Kamil, hingga kalangan pemuka agama, para profesional, serta pengusaha. Tokoh-tokoh tersebut dinilai para pendukung Jokowi secara beragam.

Penantang Jokowi

Di saat Jokowi punya beragam alternatif pilihan, para calon penantangnya sejauh ini dihadapkan pada persoalan lain yang bersumber dari tingkat elektabilitas mereka yang hingga kini masih kurang kompetitif. Kehadiran penantang baru, seperti Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Anies Baswedan, sejauh ini belum menonjol. Dalam survei kali ini, jika digabungkan, elektabilitas mereka masih di bawah 10 persen.

Kalkulasi survei kerap menunjukkan Prabowo menjadi rival Jokowi terdekat. Namun, perbedaan elektabilitas Prabowo dan Jokowi yang kini sekitar 40 persen, sebagaimana ditunjukkan dalam survei ini, membuat peta persaingan kurang kompetitif.

Dalam situasi seperti ini, keberadaan cawapres punya peran sangat signifikan. Guna mengatasi ketertinggalan elektabilitas capres, sosok cawapres harus ditopang oleh pendukung yang signifikan. Karakter barisan pendukung cawapres ini juga mesti berbeda dengan pendukung capres pasangannya.

Pertanyaannya, jika Prabowo menjadi capres, siapa pasangannya yang paling layak? Hasil survei mengungkapkan sekitar 30 sosok yang dianggap publik cocok sebagai cawapres untuk Prabowo. Nama seperti Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono berada di pilihan teratas. Terdapat pula sosok yang sebelumnya juga dianggap layak sebagai calon wakil Jokowi, seperti Jusuf Kalla serta para menteri, seperti Wiranto dan Sri Mulyani. Namun, di mata responden pendukung Prabowo, sosok-sosok yang saat ini berkiprah di pemerintahan Jokowi relatif lebih banyak mendapat penolakan ketimbang dukungan jika berpasangan dengan Prabowo.

Bersandarkan pada hasil survei, praktis sosok Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono berpeluang. Dari sisi popularitas, ketiga sosok tersebut relatif tinggi. Sekalipun dari sisi elektabilitas ketiganya relatif kecil, setiap sosok punya barisan pendukung. Namun, dari ketiga sosok itu, tidak semua punya karakter pendukung yang berbeda dengan Prabowo. Kecuali Agus Harimurti Yudhoyono, sosok lainnya punya potensi dukungan yang lebih mirip dengan karakteristik pendukung Prabowo.

Persoalannya kemudian, apakah Prabowo bersama pasangannya ataupun kombinasi capres- cawapres lain yang terbangun oleh karakteristik pendukung yang berbeda akan mampu mengatasi jurang elektabilitas yang telanjur lebar? Tampaknya, belum juga cukup. Namun, tidak berarti pintu kemenangan sudah tertutup rapat. Peluang masih bisa diperbesar jika hadir sosok yang mampu mengusai arus dukungan para pemilih yang tergolong kurang loyal.

Sebagaimana yang terungkap dari hasil survei ini, masih terdapat sepertiga pendukung Jokowi yang bisa teralihkan. Sekalipun Jokowi bersama calon wakilnya tidak serta-merta berdiam dengan kondisi itu, tetapi melalui jalan ini persaingan pemilu jadi lebih kompetitif.

 

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s