Melawan Senjata Kimia

Oleh Moazzah Malik, Dubes Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste

Pada 7 April, dunia dikejutkan oleh kejadian mengerikan di Douma, Suriah. Masih membekas di benak kita, mereka yang tergeletak tak berdaya, terbaring tak bernyawa dengan keadaan mulut berbusa.

Masyarakat berhamburan mencari tempat perlindungan dari serangan senjata kimia. Sebanyak 75 orang, termasuk wanita dan anak-anak, tewas akibat serangan brutal ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 500 pasien yang dirawat di Suriah menunjukkan gejala mereka telah terpapar senjata kimia, mata perih, sesak napas, dan perubahan warna kulit yang disertai bau menyerupai klorin.

Pelaku kekejaman ini sudah jelas. Informasi terpercaya yang datang dari berbagai sumber dan pihak intelijen menunjukkan, rezim Suriah bertanggung jawab atas penyerangan terhadap warganya sendiri.

Sumber terbuka melaporkan, senjata kimia dikirim dalam bentuk bom barel dan beberapa helikopter milik rezim terlihat di atas Douma pada malam saat penyerangan terjadi. Kelompok oposisi Suriah tidak memiliki akses terhadap bom barel ataupun helikopter.

Kejadian mengerikan ini mengingatkan kita bahwa penggunaan senjata kimia tidak dapat ditoleransi di dunia beradab ini. Namun, penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah terhadap warganya sendiri sudah dianggap biasa terjadi di tengah konflik mengerikan ini.

Pada 21 Agustus 2013, lebih dari 800 korban tewas dan ribuan lainnya terluka pada penyerangan senjata kimia di Ghouta. Kemudian pada 4 April tahun lalu, rezim Suriah menggunakan sarin dan membunuh lebih dari 100 orang serta mencederai lebih dari 500 korban lainnya di Khan Shaykhun.

Organisasi Anti Senjata Kimia, OPCW (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons), mencatat lebih dari 390 kasus dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah sejak tahun 2014.

Antara 2014 dan 2017, investigasi gabungan antara OPCW dan PBB menemukan, rezim Suriah bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia pada empat kasus berbeda, termasuk di antaranya klorin dan sarin.

Ini adalah pola perilaku pengulangan yang dilakukan rezim Assad. Jika dibiarkan, semua bukti menunjukkan, mereka akan terus menggunakan senjata-senjata kimia ini. Pilihan komunitas internasional sudah jelas.

Apakah kita mau memperjuangkan norma-norma Konvensi Anti Senjata Kimia yang secara terang-terangan dilanggar terus-menerus oleh rezim Suriah?

Atau kita malah menutup sebelah mata, tanpa ada pertanggungjawaban dari para pelaku dan mempertaruhkan risiko penggunaan senjata kimia berlanjut di Suriah?

Meskipun dalam skala yang jauh lebih rendah, penggunaan agen saraf Novichok di Salisbury bulan Maret lalu, merupakan bagian dari pola tingkah laku yang mengabaikan norma internasional terhadap senjata kimia.

Inggris telah bekerja sama dengan mitra internasional, dan secara konsisten melalui diplomasi mencoba menghentikan rezim Assad menggunakan senjata kimia pada warga Suriah.

Sejak 2016, Rusia kerap berusaha menghalangi setiap investigasi yang dilakukan OPCW terhadap dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad.

Sekali lagi, ketika kita melihat senjata kimia digunakan di Suriah, Rusia memveto resolusi tersebut di Dewan Keamanan PBB. Rusia telah memveto enam resolusi yang berhubungan dengan senjata kimia sejak awal tahun 2017.

Pada Oktober 2017, Rusia menggunakan hak vetonya untuk menutup Investigasi Mekanisme Gabungan OPCW dan PBB setelah ditemukan bukti bahwa Suriah bertanggung jawab terhadap penyerangan senjata kimia.

Kemudian pada 10 April tahun ini, Rusia kembali menggunakan hak vetonya untuk menghalangi rancangan resolusi yang akan membentuk penyelidikan independen terhadap serangan di Douma.

Namun, laporan media menunjukkan para penyidik OPCW diundang ke Douma, tapi akses mereka untuk memasuki wilayah tersebut mengalami penundaan selama berhari-hari. Rezim, Suriah dilaporkan telah mencoba menyembunyikan bukti dengan menyisir para pengungsi dari Douma, untuk memastikan tidak ada sampel yang diselundupkan dari area tersebut. Dan operasi lebih luas untuk menyembunyikan fakta-fakta terkait penyerangan tersebut sedang berjalan, dan didukung oleh Rusia.

Inggris, bersama Amerika Serikat (AS), Prancis, dan mitra internasional, secara jelas mengutarakan, penggunaan senjata kimia tidak dapat terus dibiarkan. Penggunaan senjata kimia oleh Suriah telah memperburuk situasi di sana.

Kejahatan serius ini telah menjadi perhatian dunia. Ini adalah pelanggaran hukum internasional dan masuk dalam kategori kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sekangan militer yang dilakukan Inggris bersama Prancis dan AS pada 14 April telah dirancang khusus untuk melumpuhkan kapabilitas rezim Suriah dalam senjata kimia, dan menghalangi pemakaian pada masa depan untuk meringankan penderitaan kemanusiaan.

Serangan tersebut bukan untuk mencampuri perang saudara. Dan bukan pula tentang perubahan rezim.

Beberapa hari yang lalu, bersama dengan duta besar AS dan Prancis, penulis bertemu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk mendiskusikan situasi di Suriah.

Penulis menyambut baik pernyataan resmi Indonesia yang mengungkapkan kepihatinan dan kecaman terhadap penggunaan senjata kimia.

Kami mengundang Indonesia bergabung bersama kami dan negara lainnya untuk meminta Suriah bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia.

Kami mengundang Indonesia bergabung bersama kami mendesak Suriah dan Rusia bekerja sama penuh dengan Tim Pencari Fakta OPCW dan memonitor akses serta hasil temuan mereka.

Di tengah persiapan Indonesia bergabung dengan Dewan Eksekutif OPCW dan pengajuan Indonesia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, penulis mengundang Indonesia bekerja sama dengan kami dalam mendesak semua pihak, termasuk Suriah dan Rusia, untuk menegakkan Konvensi Senjata Kimia.

Jika larangan terhadap senjata kimia gagal, kita semua akan menghadapi masa depan yang sangat berbahaya di mana pun kita berada.

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s