“Saddam Husein Bangkit Lagi!”

Resonansi: Ikhwanul Kiram Mashuri

Beberapa hari ini, mantan presiden Irak Saddam Husein seolah bangkit lagi dari kuburnya. Berbagai kisah dan cerita tentang pemimpin Irak yang dieksekusi mati 12 tahun lalu itu beredar dari mulut ke mulut dan media sosial. Termasuk kontroversi mengenai penggalian kuburnya dan ke mana jenazahnya dipindahkan.

Menurut Usman Mirghani, kolumnis politik Timur Tengah di media al-Sharq al-Awsat, bukan hal yang aneh apabila rakyat Irak mengenang kembali Saddam Husein, terutama pada setiap April seperti sekarang. Pada 9 April 2003, terjadi serangan pasukan Amerika Serikat (AS) ke Baghdad dan sekaligus kejatuhan rezim presiden Saddam Husein. Lalu pada 28 April 1937 adalah hari kelahiran sang mantan pemimpin Irak itu.

Bahkan, lanjut Mirghani, tidak mengherankan pula bila ada sebagian rakyat Irak yang merindukan kembalinya (zaman) Saddam Husein. Bagi mereka, Saddam Husein merupakan pahlawan. la dianggap sebagai korban konspirasi global, terutama Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat, termasuk beberapa negara Arab, untuk menghabisinya.

Apalagi, Saddam Husein saat itu merupakan pemimpin kuat di Timur Tengah yang bisa membahayakan kepentingan Barat. Konspirasi itu adalah invasi militer AS dan sekutunya untuk menjatuhkan dan kemudian membunuh Saddam Husein, dengan alasan ia menyimpan senjata pemusnah massal yang hingga kini tak pernah terbukti.

Kerinduan pada masa lalu itu bahkan telah melupakan bahwa ‘orang yang disucikan’ itu sebenarnya juga mempunyai perjalan hidup yang kelam selama memimpin Irak. Misalnya, ia telah menghabisi semua kelompok dan para tokoh oposisi. Nasib mereka kalau tidak ke liang kubur, ya dijebloskan dalam penjara. Bahkan ketompok-kelompok Kurdi yang berani memberontak terhadap kekuasaannya diserang habis. Yang tersisa dari mereka kemudian dipaksa hidup terpencar di berbagai wilayah di Irak.

Namun, kerinduan kepada Saddam telah melupakan periode hitam itu. Seolah selama kekuasaannya yang ada adalah kebaikan. Bahkan, kini beredar cerita yang aneh-aneh, yang jauh dari kenyataan. Misalnya, tentang Saddam yang dihukum gantung pada 2006 sesungguhnya adalah wali, sang juru penyelamat, pemimpin agung, dan seterusnya. Jenazahnya pun tidak membusuk, tetap utuh seperti sedia kala.

Kisah-kisah karamah mengenai Saddam kali ini pun bukan yang pertama. Juga cerita-cerita di sekitar pemakaman dan jenazahnya setetah diserahterimakan kepada wakil sukunya di Trikrit, usai dieksekusi mati. Kisah-kisah di seputar pemakaman Saddam terus berulang, berikut penambahan bumbu-bumbu yang menyertainya. Puncaknya, pada 2014, ketika sebuah kelompok yang menamakan diri Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS menguasai sebagian Irak dan Suriah.

Sebuah makam yang dipercaya sebagai tempat penguburan Saddam Husein banyak dikunjungi warga, terutama oleh suku dan para pengagumnya, meskipun Pemerintah Irak telah melarangnya. Pada Juli 2014, media setempat melaporkan pernyataan mengejutkan dari pemimpin suku al-Bunasser, asal suku Saddam, bahwa pihaknya secara diam-diam telah memindahkan jenazah Saddam ke tempat aman dan rahasia lantaran khawatir pemakamannya akan dirusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dan, kekhawatiran itu benar-benar terjadi ketika milisi Syiah menyerbu dan merusak pemakaman yang dipercaya sebagai tempat penguburan Saddam. Pada Maret 2015, beredar sebuah video yang memperlihatkan pemakaman Saddam benar-benar telah dihancurkan. Kali ini pelakunya dipercaya sebagai orang-orang ISIS.

Hingga kini, belum diketahui dengan pasti lokasi jenazah Saddam Husein disimpan dan dimakamkan. Cerita tentang jenazah mantan orang kuat Irak itu masih misteri. Namun, kemisterian itu justru telah memunculkan kisah-kisah aneh, cerita-cerita yang saling bertentangan, yang bahkan melebihi cerita atau film fiksi sekalipun. Misalnya, kisah tentang putri Saddam yang bernama Hata yang bermukim di Yordania.

Diceritakan, Hata datang dengan pesawat pribadi yang mendarat secara diam-diam di situs tempat ayahnya dimakamkan dan mengangkut jenazah ayahnya ke Yordania. Dalam kondisi Irak yang kacau dan kompleks pemakaman yang dipercaya sebagai tempat pengubbran Saddam diawasi ketat, tampaknya tidak mungkin sebuah pesawat pribadi bisa mendarat dengan aman tanpa diketahui musuh-musuh atau orang yang membenci rezim Saddam Husein.

Cerita tentang ‘kehebatan’ Saddam kali ini bertepatan dengan waktu menjelang pemilihan parlemen Irak. Banyak warga yang kemudian bernostalgia, merindukan masa-masa ketika rezim Saddam Husein sedang jaya-jayanya. Apalagi, negara yang melahirkan kisah “1001 malam” itu kini terjerumus dalam berbagai persoalan yang parah. Dari korupsi yang merajalela, konflik sektarian, hingga ekonomi yang jeblok.

Dalam kondisi seperti ini, seperti dikatakan Usman Mirghani, banyak warga Irak yang kemudian merindukan Saddam Husein dan masa-masa kejayaannya. Mereka pun melupakan sisi gelap Saddam, yang pernah menjerumuskan Irak dalam tiga kali perang dengan negara-negara tetangganya. Jutaan warga Irak telah terbunuh dan lainnya luka-luka. Termasuk ketika ia menumpas habis orang-orang atau pihak yang berani melawannya.

Hal demikian tentu bukan eksklusif atau monopoli Irak saja. Di negara-negara Arab lain yang pernah diterjang angin beliung berupa revolusi rakyat menentang rezim diktator-otoriter, kini juga merindukan masa-masa kejayaan para tokoh yang mereka gulingkan itu. Apalagi Negara-negara itu— Tunisia, Mesir, Yaman, Libia, dan lainnya—kondisinya sekarang ini tidak lebih baik dari masa rezim diktator bin otoriter—baik potitik, ekonomi, dan apalagi keamanan.

Di Libia, suara-suara kemarahan kepada pemerintahan sekarang terdengar nyaring, setelah negara itu terjerumus dalam berbagai kekacauan. Mereka merindukan kembalinya rezim pemimpin besar Muammar Qadafi. Di Yaman, para penentang mantan presiden Ali Abdullah Soleh ikut bersedih ketika ia dibunuh oleh orang-orang Houthi. Mereka kini bergabung dengan para pendukung Ali Abdullah Soleh.

Di Sudan, banyak cerita yang beredar di kalangan warga yang mengagung-agungkan masa pemerintahan presiden Jaafar Numeiri dan beberapa pendahulunya seperti presiden Ibrahim Abboud atau presiden Ismail Azhari. Mereka meratapi masa lalu lantaran apa yang terjadi hari ini.

Di Indonesia, sempat beredar kata-kata yang dialamatkan kepada mantan presiden Soeharto, “Piye kabare, enak zamanku tho?” Slogan itu, atau kalimat sejenisnya, dengan gambar Pak Harto yang tersenyum sambil melambaikan tangannya sempat ramai kita jumpai di berbagai tempat. Di truk-truk dan angkutan umum, pasar, spanduk, hingga media sosial, dan menjadi pembahasan para politisi dan para pengamat politik. Intinya, slogan itu menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kita ada yang merindukan masa-masa Soeharto ketika melihat kondisi pasca-Reformasi tidak tebih baik dari masa Orde Baru.

Menurut pengamat potitik Timur Tengah Usman Mirghani, kondisi demikian mencerminkan realitas kegagalan elite dan politisi di negara-negara yang terjerumus dalam berbagai kekacauan. Dari kegaduhan politik, korupsi yang merajalela, konflik sektarian, hingga salah kelola ekonomi. Mereka, rakyat di negaranegara yang dilanda kekacauan itu lantas merindukan masa-masa ketika diperintah oleh rezim diktator bin otoriter.


Republika 23 April 2018 P9, ‘Publik’ 

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s