KSAL Laksamana Ade Supandi, “Menuju 10 besar Dunia”

Mengenakan pakaian dinas tapangan kapal perang, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi terlihat sumringah. Sesekali ia melontarkan guyonan khasnya dan membuat suasana menjadi cair. Akrab, itu kata kunci saat ia menerima wawancara wartawan senior Republika, Selamat Ginting di ruang tamu KSAL, Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/4/2018).

KSAL ditemani antara lain Kepala Dinas Penerangan AL, Laksma Gig Jonias Mozez Sipasutta. Berikut wawancara dengan orang nomor satu di Mabesal tentang posisi TNI AL dibandingkan AL dunia.

Military Today menempatkan Angkatan Laut Indonesia nomor 11 dunia. Hanya berbeda tipis dengan Taiwan nomor 10 dunia. Kini AL Amerika Serikat menunjukkan taringnya di Suriah. Bagaimana kaitan antara kedigdayaan Angkatan Laut dengan penguasaan dunia?

Apa yang terjadi di Suriah maupun Timur Tengah, tidak bisa dilepaskan dari persoalan sumber daya alam, utamanya minyak. Dibelahan bumi lainnya, belum ditemukan sumber minyak yang banyak, baik berupa mineral dan tambang atau juga sumber daya alam lainnya. Termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbarukan dan diramalkan pada tahun 2050 itu akan hilang.

Di situlah sebuah negara mempertahankan kelangsungan hidupnya dan itu harus diperjuangkan, termasuk apabila harus bersentuhan dengan negara lain. Konflik tak mungkin bisa dihindari, karena setiap negara pasti ada masalah dengan negara tetangganya. Sehingga untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas di lautan, diperlukan Angkatan Laut yang besar dan kuat. Angkatan Laut besar mengikuti negara, kebesaran negara itu berdasarkan nilai historic.

Amerika memiliki sejarah sebagai negara terjajah kemudian berbalik menjadi negara ekspansionjs. Kecenderungan itu juga ada pada negara-negara seperti Rusia, Chia, dan juga Inggris. Bahkan Britania Raya awalnya dikenal sebagai raja kolonial sebelum Amerika menjadi digdaya. Britania bersama Prancis dan Belanda menjadi sebuah koloni menakutkan. Mereka sesungguhnya mengikuti langkah pendahulunya, Spanyol dan Portugis. Penjajahan itu awalnya menggunakan armada laut. Di situlah siapa yang kuat armada Angkatan Lautnya berpotensi menguasai dunia.

Bagaimana dengan perencanaan kekuatan Angkatan Laut Indonesia?

Kita punya perencanaan untuk membangun Angkatan Laut yang kuat. Setidaknya seperti kondisi pada 1962-1963 saat menghadapi Belanda dalam perang mempertahankan Irian Barat. Kita cukup diperhitungkan di belahan Benua Asia. Negaranegara Eropa pun berpikir untuk tidak gegabah memasuki wilayah perairan Indonesia. Kapal perang, termasuk kapal selam kita menggetarkan Angkatan Laut Belanda saat operasi Trikora juga Inggris saat operasi Dwikora.

Memang sekarang perencanaannya pada kekuatan esensial minimal terlebih dahulu, disesuaikan dengan keuangan negara. Namun ada batasnya atau mesti diberikan deadline kekuatan esensi minimal tersebut. Siapa mengira awalnya hanya perdagangan VOC, namun.kemudian Belanda berubah menjadi penjajahan? Kondisi itu juga sangat mungkin terjadi pada saat ini dan mendatang.

Pada 1960-an itu, Angkatan Laut kita kuat bukan hanya untuk menghadapi operasi militer di Irian Barat saja. Melaikan juga pendiri bangsa berpikir Angkatan Laut digunakan untuk menstabilkan konstruksi wilayah negara. Karena itu ada usaha melegitimasi wilayah kekuatan laut melalui Deklarasi Juanda. Deklarasi itu secara tidak langsung, laut sudah merdeka.

Tetapi mengapa Belanda bisa masuk lagi ke Indonesia, artinya apa?

Artinya ada bagian wilayah kita yang harus dijamin oleh undang undang atau pernyataan kita tentang halaman rumah kita. Dalam Deklarasi Juanda disebutkan penentuan batas teritorial yang lebarnya 12 mil, diukur dengan garis-garis yang menghubungkan titik- titik ujung terluar pada pulau- pulau negara Indonesia. Dalam forum hukum laut Perserikatan Bangsa Bangsa (UNCLOS) 1982, ditetapkan Indonesia sebagai negara kepulauan dan berhak atas laut teritorial sejauh 12 mil laut. Zona tambahan sejauh 24 mil laut, Zona Ekonomi Ekslusif sejauh 200 mil laut dan landas kontinen sejauh 350 mil atau lebih.

Dengan tekad menjadi Poros Maritim Dunia, maka kekuatan Angkatan Laut harus diperbesar lagi. Berapa kekuatan yang dibutuhkan? Kita samakan saja dengan saat operasi militer mempertahankan Irian Barat, sekitar 151 hingga 175 kapal.

Apakah kapasitasnya mesti kapal perang semua agar bisa mewujudkan Angkatan Laut Indonesia nomor 10 terkuat di dunia?

Saya mesti katakan, lebih dari separuhnya harus kapal perang! Bukan jenis kapal patroli. Artinya kemampuan kapal perang yang bisa melaksanakan peperangan kepulauan dan memiliki daya tempur yang bagus. Kapal-kapal kecil harus memiliki kemampuan kombatan yang memadai. Kapal-kapal kita harus dilengkapi peluru kendali dengan senjata cerdas. Komando pengendaliannya juga mesti kuat dan untuk memenangkan pertempuran kita mesti memiliki peralatan komunikasi yang canggih.

Mengapa kerap menghadapi kendata saat TNI mengajukan anggaran untuk peralatan perang?

Ya, karena mereka tidak tahu artinya perang. Mereka berpikir Indonesia akan damai-damai saja. Mungkin setelah diserang seperti negara-negara Timur Tengah, kita baru sadar. Kesadaran yang terlambat ini menjadi fatal. Coba kita bandingkan dana untuk infrastruktur jalan raya, misalnya menghabiskan 5 triliun. Sampai berapa lama jalan itu akan terawat? Mungkin hanya sekitar dua tahun saja. Nah, untuk kapal perang seharga 5 triliun, bisa untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah negara hingga lima tahun ke depan. Kok selalu dibilang mahal? Jadi ini soal pemahaman bela negara dan nasionalisme.


Republika 20 April 2018, Page 18-19 Teraju

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s