NU Cabut Laporan terhadap Sukmawati

Nandlatul Ulama Wilayah Jawa Timur mencabut pengaduan terhadap Sukmawati Soekarnoputri ke Kepolisian Daerah Jawa Timur. Ketua Pengurus NU Jawa Timur, Hasan MuttawakilAlallah, mengatakan pencabutan itu dilakukan setelah mendapatkan arahan dari para kiai NU di Jawa Timur. “Kami telah memaafkan Bu Sukmawati. Lembaga Bantuan Hukum NU dan Ansor hari ini juga akan mencabut laporan di Polda Jawa Timur,” kata dia di Surabaya, kemarin.

Pada 3 April lalu, Pengurus Wilayah Nandlatul Ulama Jawa Timur mengutus badan otonomnya, Ansor, mengirim surat aduan ke Polda Jawa Timur. Laporan itu ditujukan kepada Sukmawati atas puisi berjudul Indonesia yang dibacakan dalam acara Indonesia Fashion Week 2018 pada 29 Maret lalu. Mereka menilai isi puisi itu tidak menghormati agama. Dalam puisi itu, Sukmawati menyebut kata syariat Islam yang dipadukan dengan kata yang merujuk pada budaya Indonesia.

Hasa n mengatakan laporan atas Sukmawati dicabut lantaran putri presiden pertama Indonesia, Soekarno, itu mempunyai niat baik dan ketulusan untuk meminta maaf. Selain itu, mediasi telah dilakukan oleh Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Jawa Timur.

Sebelumnya, Sukmawati juga menggelar pertemuan tertutup dengan para kiai NU Jawa Timur. Dalam pertemuan itu mereka meminta Sukmawati memperbanyak memohon ampunan kepada Allah dan tidak mengulangi tindakan .yang bisa memancing kegaduhan masyarakat, terutama umat Islam.”Beliau telah berkomitmen untuk itu,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, itu.

Sukmawati mengatakan tak ada mat menghina umat Islam atas puisi yang dibacakan itu. Ia juga telah meminta maaf telah memantik kontroversi. Dalam pertemuan dengan para kiai tersebut, is mengaku akan mematuhi arahan. “Saya sendika dhawuh (mengikuti) pada beliau-beliau,” kata dia.

Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menilai laporan karya sastra ke ranah hukum tidak tepat dilakukan. Sebab, sebuah karya sastra hanya bisa dipolemikkan dengan kritik sastra. Ia sepakat dengan sikap NU Jawa Timur untuk mencabut aduan ke kepolisian. “Yang dibutuhkan sebenarnya kesadaran untuk saling menghormati sesama umat beragama,” tutur dia.


Koran Tempo 19 April, P9 | Oleh KUKUH S. WIBOWO | DANANG, FIRMANTO

 

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s