Islam dan Hubungan Antaragama

Oleh Dr Syamsuddin Arif, Peneliti INSISTS.

Pada bulan Oktober 2017, Presiden RI Joko Widodo mengangkat Prof. Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja sama Antaragama dan Peradaban. Pengangkatan yang diumumkan di Ruang Kredensial, Istana Merdeka, Jakarta itu merupakan wujud kepedulian pemerintah untuk mengembangkan dialog sekaligus kerja sama antaragama, baik di dalam maupun luar negeri. Melalui dialog dan kerja sama, umat beragama diharapkan mampu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang sedang terjadi di Indonesia dan memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa. Di samping itu, dialog adalah langkah kongkrit untuk meredam konflik, kekerasan, dan agresi antar komunal.

Secara historis, gagasan dialog antaragama baru muncul setelah Perang Dunia Kedua yang banyak menelan korban jiwa. Sikap beragama yang eksklusif dituding sebagai biang keladi timbulnya perselisihan dan permusuhan antar pemeluk agama berbeda. Dalam sebuah pertemuan (konsili) yang digelar di Vatikan pada tahun 1962-1965, tokoh-tokoh Katolik membahas berbagai masalah termasuk soal hubungan Gereja dengan agama-agama lain. Hasilnya dirumuskan dalam sebuah dokumen bertajuk Decreturn de Ecclesiae Habitudine ad Religiones Non-Christianas (`Keputusan mengenai Sikap Gereja terhadap Agama-agama bukan Kristen’) yang belakangan lebih dikenal dengan sebutan Nostra Aetate (‘Di Zaman Kita’).

Dokumen resmi itu antara lain menyatakan bahwa Gereja Katolik tidak mengingkari adanya kebenaran dan kesucian pada agama-agama selain Kristen (ecclesia catholica nihil eorum, quae in his religionibus vera et sancta sunt, reicit) dan bahwa agama-agama lain merupakan `pantulan’ cahaya kebenaran [agama Kristen] yang menerangi seluruh umat manusia (baud raro referunt tamen radium illius veritatis, quae illuminat nines homines). Namun, tetap ditegaskan bahwa Yesus Kristus ialah satu-satunya jalan [keselamatan], satu-satunya kebenaran, dan satu-satunya kehidupan (annuntiat vero et annuntiare tenetur indesinenter Christum, qui est ‘via et veritas et vita’) sebagaimana tertulis dalam Gospel Yohannes 14.6.

Banyak orang bilang Gereja Katolik telah berubah sikap dari eksklusif menjadi inklusif. Memang benar, sejak berabad-abad lamanya, mereka mengajarkan bahwa agama Kristen adalah satu-satunya agama yang benar, bahwa agama-agama lain —apakah itu Islam Yahudi, Hindu, Buddha, dan lain sebagainya itu semua tidak benar, bahwa hanya penganut Kristen dan anggota Gereja dijamin selamat sampai ke surga. Para pemeluk agama lain dianggap sesat dan bakal masuk neraka. Seperti kata Santo Cyprianus: “Salus extra ecclesiam non est” (‘Tiada keselamatan di luar gereja’). Sikap eksklusif inilah yang banyak dikritik dan dianggap bertanggung-jawab menyuburkan sikap intoleran, fanatik dan picik, serta memicu dan membenarkan aneka perlakuan buruk dan penindasan terhadap umat agama lain. Maka umat Kristen dianjurkan bersikap inklusif, dalam arti terbuka, merangkul semua orang, dan tidak menutup peluang keselamatan bagi umat agama lain.

Selanjutnya Gereja mengimbau kepada ‘anak-anaknya’ supaya mengadakan dialog dan kerja-sama dengan pemeluk agama lain secara hati-hati dan penuh cinta kasih dengan tetap menyatakan keyakinan dan kehidupannya sebagai seorang Kristen demi memelihara dan meningkatkan kebaikan moral maupun spiritual yang terdapat pada agama-agama tersebut beserta nilai-nilai masyarakat dan budayanya: Filios suos igitur hortatur, ut cum prudentia et caritate per colloquia et collaborationem cum asseclis aliarum religionum, fidem et vitam christianam testantes, illa bona spiritualia et moralia necnon illos valores socio-culturales, quae aped eos inveniuntur, agnoscant, servent et promoveant. Dengan kata lain, dialog dan kerja sama itu tidak boleh melunturkan apalagi menggugurkan keyakinan alias akidah yang dianutnya.

Meski dialog dengan umat agama lain konon bermaksud mengikis rasa permusuhan dan menumbuhkan sikap saling memahami dan saling menghormati, dokumen Gereja tersebut dengan tegas menyatakan tujuan finalnya. Sikap bersahabat dan non-diskriminatif dalam dialog antaragama, di samping untuk kehidupan yang rukun damai dengan sesama (cum omnibus hominibus pacem habeant), pada intinya dan akhirnya adalah upaya halus agar seluruh manusia menjadi ‘anak-anak Tuhan Bapak di Sorga’: ita ut vere sint filii Patris qui in caelis est. Artinya, dialog antaragama yang digagas itu memang tak lepas dari misi penasranian atau proselytisasi.

Untuk tujuan tersebut Paus Paulus VI mendirikan Segretariato per i non-Cristiani pada 1964 yang pada 1988 ditukar namanya menjadi The Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID). Sekretariat ini diberi tugas menyelenggarakan aneka forum antaragama, membentuk dan —kalau sudah ada- mendukung individu maupun organisasi atau lembaga yang mau bekerjasama dan aktif terlibat dalam kegiatan serupa. Melalui Dewan Gereja se-Dunia (The World Council of Churches) telah diadakan secara rutin dialog antaragama di berbagai belahan dunia. Sekretariat tersebut juga menerbitkan sebuah buku panduan, khususnya untuk ‘berdialog’ dengan kaum Muslim.

Di tataran akademik telah diluncurkan pula jurnal ilmiah bernama Islamochristiana terbitan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica Vatikan, jurnal Studies in Interreligious Dialogue oleh The European Society for Intercultural Theology and Interreligious Studies bekerjasama dengan penerbit Peeters Belgia, Bulletin of the Royal Society for Inter-Faith Studies, dan jurnal Islam and the Christian-Muslim Relations terbitan Department of Theology and Religion, Universitas Birmingham Inggris. Misi baru ini didukung oleh sejumlah tokoh akademik kelas dunia. Sebutlah diantaranya Karl Rahner yang membuat istilah anonymous Christian (‘Kristen tanpa nama’) untuk orang-orang non-Kristen yang katanya tidak menyadari dirinya sudah Kristen.

Pluralisme

Pada perkembangan selanjutnya, sejumlah pemikir Kristen semisal John Hick lalu mengajak orang dari dialog dan inklusivisme kepada ‘pluralisme agama’, supaya mengakui dan menerima kebenaran agama lain, menganggap semua agama sama benar, sama baik dan sama validnya, meyakini kebenaran semua agama yang ada di dunia (Lihat: William L. Rowe, Philosophy of Religion: An Introduction, Thomson Wordsworth 2007, hlm. 185).

Menurut Peter Byrne, di dalam pluralisme sebenarnya bersemayam agnostisisme, paham bahwa kebenaran hanya bisa didekati, tetapi mustahil ditemukan. Pluralisme agama, jelasnya, merupakan persenyawaan tiga proposisi. Pertama, semua tradisi agama-agama besar adalah sama, semuanya merujuk dan menunjuk sebuah realitas tunggal yang transendent dan suci. Kedua, semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan. Dan ketiga, semuanya tidak ada yang final. Artinya, setiap agama harus selalu terbuka untuk dikritisi dan direvisi.

Bagaimana sebenarnya Islam memandang agama lain dan mengatur hubungan antar umat beragama? Jika kita teliti secara historis maupun normatif, ada tiga pola yang selama ini dipahami dan dijalani oleh umat Islam sejak zaman Nabi hingga sekarang. Pertama, pola polemik-apologetik, di mana masing-masing pihak berusaha mengalahkan pihak lain melalui karya tulis ilmiah dan adu argumentasi secara rasional. Kitab ulama besar Fakhruddin ar-Razi yang berjudul Munazarah fi ar-Radd `ala n-Nashara salah satu contohnya.

Kedua, pola konflik-konfrontatif berupa aksi militer dan pertempuran fisik. Ini terjadi tatkala dakwah dihambat, umat Islam ditindas, dan hukum Tuhan dilecehkan atau dikesampingkan. Perang Badar, Perang Salib, Perang Aceh, dan Perang Diponegoro beberapa contohnya.

Yang terakhir adalah pola irenik-persuasif yang mengedepankan keharmonisan dan kerukunan, menunjukkan toleransi dan kebersamaan (peaceful coexistence) dengan umat agama lain sebagaimana dipraktikkan selama berabadabad di Persia, Andalusia dan Indonesia.

Fakta sejarah maupun bukti tekstual menunjukkan bahwa yang dilakukan Umat Islam sejak abad pertama Hijriah adalah satu dari atau kombinasi strategi-strategi berikut ini: (i) dakwah secara bijak, rasional dan persuasif (da`wah bil hikmah wal mateizhah al-hasanah), yakni mengajak orang agama lain untuk masuk Islam, karena mereka yakin bahwa Islamlah agama yang benar.

Berbeda dengan ‘dialog’ yang menganggap semua agama sama benarnya, `dakwah’ berangkat dari kesadaran penuh dan keyakinan mendalam sang juru dakwah bahwa agama selain Islam itu keliru dan sesat. Dakwah tidak bertolak dari relativisme atau pluralisme agama.

Strategi kedua (ii) adalah debat secara santun dan tegas (jidal billati hiya ahsan) yakni menjawab argumentasi orang Kristen dalam berbagai forum dan media, menyanggah mereka dengan hujah-hujah yang logis rasional, secara lisan maupun tulisan. Jalan terakhir (iii) adalah aksi militer alias perang, apabila semua jalan tersebut di atas buntu, ditutup atau disekat, sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Sebagai contoh, dalam kasus hubungan dengan kaum Yahudi, pakar sejarah keturunan Yahudi di Princeton University, Prof. Bernard Lewis, menyatakan, bahwa secara keseluruhan, berbeda dengan sikap kaum Kristen terhadap Yahudi, umat Islam tidak membenci, tidak takut, dan tidak pula dengki terhadap Yahudi. (“On the whole, in contrast to Christian anti-Semitism, the Muslim attitude toward non-Muslims is one not of hate or fear or envy but simply contempt for those who had been given the opportunity to accept the truth and who willfitlly chose to persist in their disbelief.” Bernard Lewis, The Jews of Islam (London: Routledge & Kegan Paul, 1984).

Advertisements

Leave a Reply | Print Satu Media

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s